ISTIRAHAT DAN TIDUR

ROHMAN AZZAM (PSIK FKK UMJ)

Definisi Tidur

Uraian tentang definisi tidur ini dipandang penting, mengingat pemahaman tentang definisi sesuatu dapat membatasi luas dan kedalaman objek yang pelajari. Beikut ini akan diuraikan beberapa definisi tidur berdasarkan berbagai sumber.

Turpin (1986) dalam Leahy & Kizilay (1998, p. 700) mendefinisikan tidur sebagai suatu keadaan dimana organisme secara reguler, berulang, dan mudah kembali lagi (reversible) ditandadi oleh keadaan yang relatif diam/tanpa gerak dan meningkatnya ambang respon terhadap stimuli eksternal. Sedangkan Martini (2001) mendefinisikan tidur sebagai suatu keadaan tidak sadar (unconciousness) tetapi dapat dibangunkan dengan perangsangan sensori yang sesuai. Adapula pendapat lain yang mendefinisikan tidur sebagai perubahan keadaan kesadaran yang terjadi secara terus-menerus dan berulang untuk menyimpan energi dan kesehatan (Potter & Perry, 1993, p. 1146). Sementara itu Berger & William (1992, p. 1317) mendefinisikan tidur sebagai ritme fisiologis yang komplek dan normal, yang melibatkan perubahan keadaan kesadaran dari seorang individu yang dapat dibangunkan oleh stimulus yang tepat. Pendapat yang hampir sama juga di kemukakan Guyton (1996, hal. 945) yang mendefinisikan tidur sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya. Sedangkan menurut Kozier (1995, p. 953) definisi tidur telah mengalami evoluasi. Secara historis, tidur dianggap sebagai suatu keadaan tidak sadar (state of unconsciousness). Sedangkan menurut konsep terbaru, tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan sadar (state of consciousness) dimana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun.

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: pertama, tidur berkaitan dengan kesadaran (ringan/sadar/conciousness sampai bawah sadar/tidak sadar/unconciousness); kedua, terjadi secara reguler, berulang, dan reversibel; ketiga,aktivitas/ gerakan fisik minimal atau relatif diam; keempat, respon, persepsi dan rekasi terhadap stimuli eksternal/lingkungan  menurun; kelima, dapat dibangunkan dengan stimulus yang sesuai; keenam, berfungsi untuk menyimpan energi dan penting bagi kesehatan

Fisiologi Tidur

Tidur merupakan proses fisiologis yang komplek. Ia melibatkan serangkaian keadaan yang dipertahankan fungsi luhur dari aktivitas system saraf pusat yang berkaitan dengan perubahan-perubahan pada system saraf perifer, endokrin, kardiovaskuler, respirasi,  dan system muskuloskeletal (Hoch, Reynolds, 1986; Closs, 1988 dalam Potter & Perry, 1993). Setiap sekuensinya dapat diidentifikasi melalui respon perilaku spesifik, respon fisiologis, dan pola aktivitas otak. Beberapa instrumen dapat digunakan seperti elektroensepalogram (EEG), yang dapat mengukur aktivitas listrik di dalam kortek serebri, elektromiogram (EMG), yang dapat mengukur tonus otot, dan elektrookulogram (EOG), yang dapat mengukur gerakan mata. Kesemuanya itu dapat memberikan informasi tentang aspek fisiologi tidur.

Pembahasan selanjutnya akan diuraikan aspek lain terkait dengan fisiologi tidur yaitu bioritme, pengaturan tidur, macam dan tahapan tidur serta siklus tidur.

Bioritme dan Tidur

Setiap kehidupan manusia merupakan rangkaian irama (rhythms) yang mempengaruhi dan mengatur fungsi fisiologi dan respon perilaku (Potter & Perry, 1993). Bioritmologi, mempelajari ritme biologik tubuh. Bioritme (ritme/irama biologik) terdapat pada tumbuhan, hewan dan manusia.

Pada manusia dikontrol dari dalam tubuh dan disikronkan dengan faktor-faktor lingkungan seperti stimuli terang dan gelap, gravitasi dan elaktromagnetik. Bioritme yang lebih kita kenal adalah sirkadian ritme (circadian rhythm). Istilah sirkadian berasal dari bahasa Latin “circa dies” yang berarti “tentang hari”. Yang dimaksud adalah siklus dalam 24-jam atau siklus siang-malam. Tidur merupakan contoh dari sirkadian ritme. Siklus tidur-terjaga setiap hari, yang termasuk ke dalam sirkadian ritme, dipengaruhi oleh pencahayaan dan temperatur (Potter & Perry, 1993). Lebih lanjut, menurut keduanya sirkadian ritme yang juga disebut sebagai jam biologis dipengaruhi pola oleh aktivitas sosial dan rutinitas kerja. Oleh karenanya beberapa individu dapat tidur pada jam 8 malam, sedangkan yang lainnya baru dapat tidur pada tengah malam atau dini hari. Horne dan Ostberg (1976) dalam Potter dan Perry (1993) mengklasifikasikan orang kedalam dua kelompok, yaitu orang dengan tipe pagi (morning type) dan tipe sore (evening type). Dijelaskan bahwa orang yang tidur dan kemudian bangun pada dini hari, dan penampilannya terbaik pada saat pagi hari termasuk kedalam tipe pagi. Sedangkan  orang yang tidur dan kemudian bangun pada sore hari  serta berfungsinya terbaik pada sore hari termasuk kedalam tipe sore.

Irama biologi tidur seringkali diselaraskan dengan fungsi tubuh lainnya. Perubahan temperatur, sebagai contohnya berkorelasi dengan suhu tubuh. Normalnya, suhu tubuh berada pada puncaknya di sore hari, menurun secara bertahap dan kemudian menurun dengan tajam setelah seseorang jatuh tidur (Potter & Perry, 1993).

Pengaturan Tidur

Kontrol dan regulasi tidur tergantung pada interrelasi antara dua mekanisme serebral yang bekerja saling berlawanan antara yang satu dengan lainnya. Keduanya secara intermiten mengaktivasi dan mensupresi pusat luhur di otak yang mengontrol tidur dan terjaga. Satu mekanisme menyebabkan individu terjaga, sedangkan mekanisme lainnya menyebabkan individu tertidur.

Sistem pengaktipan reticular (reticular activating system/RAS) terletak dalam batang otak atas (upper brainstem). RAS diyakini mengandung sel-sel khusus yang mempertahankan keadaan siaga dan terjaga. RAS menerima input rangsang sensori visual, auditori dan nyeri serta rangsang taktil. Aktivitas dari serebral kortek (seperti emosi dan proses berfikir) juga menstimulasi RAS. Studi yang dilaporkan oleh Canavan (1984) dan Chuman (1983) dalam Potter & Perry (1993) meyakini bahwa keadaan terjaga merupakan akibat dari neuron-neuron yang ada dalam RAS melepaskan katekolamin seperti hormon norepineprin.

Tidur dapat juga ditimbulkan oleh pelepasan serotonin dari sel khusus dalam raphe sleep system pada pons dan bagian medial dari otak depan. Area otak ini disebut juga sebagai regio pengsinkronan bulbar (bulbar synchronizing region/BSR). Bagaimana seseorang dapat mempertahankan keadaan terjaga atau keadaan tidur bergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dari pusat-pusat luhur (seperti, berfikir); reseptor sensori perifer seperti stimuli bunyi dan cahaya; dan sistem limbik atau emosi (Potter & Parry,1993).

Seorang yang mencoba untuk tidur, akan menutupkan matanya dan mengatur posisinya sehingga rilek. Stimulus pada RAS menjadi menurun. Jika ruangan digelapkan dan tenang, maka aktivasi RAS akan semakin menurun. Pada suatu saat BSR akan mengambil alih, sehingga menyebabkan individu menjadi tertidur (Potter & Perry, 1993).

Macam dan Tahapan Tidur

Terdapat dua macam tidur yang dapat diidentifikasi, yaitu tidur nonrapid eye movement/NREM (Non REM) dan tidur rapid eye movement (REM).

Tidur NREM

Tidur NREM juga disebut sebagai tidur gelombang lambat, karena gelombang otak orang yang tidur lebih lambat dari pada gelombang alpha dan beta orang yang terjaga atau bangun. Kebanyakan selama tidur malam merupakan tidur NREM. Merupakan tidur yang dalam, tidur tenang dan menururt Kozier (1995) menyebabkan penurunan beberapa fungsi fisiologis, seperti penurunan tekanan darah arteri, penurunan denyut nadi, dilatasi pembuluh darah perifer, aktifitas saluran pencernaan meningkat, otot rangka relaksasi, dan laju metabolic basal menurun 10% – 30%.

Kozier (1995) menjelaskan tidur NREM dibagi kedalam 4 tahap, yaitu :

Tahap 1

Merupakan tahap tidur yang sangat ringan. Selama tahap ini orang merasa mengantuk dan relak, mata berputar/bergerak dari samping ke samping, denyut jantung dan pernafasan sedikit menurun. Orang dapat dengan mudah dibangunkan dan tahap ini hanya beberapa menit.

Tahap 2

Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dimana selama tidur beberapa proses tubuh secara perlahan menurun. Mata umumnya tenang. Denyut jantung dan respirasi menurun sedikit dan demikian pula suhu tubuh. Tahap 2 ini berlangsung sekitar  10-15 menit.

Tahap 3

Selama tahap ini denyut jantung dan respirasi seperti juga proses tubuh lainnya, lebih perlahan lagi karena dominasi sistem saraf parasimpatis. Individu menjadi lebih sukar dibangunkan. Tidak terganggu dengan rangsang sensori, otot skeletal sangat relaksasi, reflek terbatas dan mungkin mendengkur.

Tahap 4

Tahap ini merupakan tanda tidur dalam, dengan karakteristik seperti pada tabel 1. Denyut jantung dan respirasi menurun 20-30% lebih rendah dibandingkan ketika terjaga. Individu sangat relak, jarang bergerak, dan sukar dibangunkan. Selama tahap ini mata biasanya berputar dan dapat terjadi mimpi.

Tabel 1  Karakteristik Tidur NREM

Tahap Karakteristik
Tahap 1

Tahap 2

Tahap 3

Tahap 4

§      Relak dan mengantuk

§      Sangat tenang

§      Biasanya hanya beberapa menit

§      Rasa mengambang/melayang

§      Mata berputar dari samping ke samping

§      Tidur ringan

§      Mudah dibangunkan

§      Merupakan 40-45% total waktu tidur

§      Kurang mudah dibangunkan

§      Tidur medium-dalam

§      Otot secara total relak

§      Tekanan darah rendah

§      Tahap tidur dalam

§      Jarang bergerak

§      Otot secara lengkap relak

§      Sukar dibangunkan

§      Terjadi 30-40 menit mengikuti onset tidur

Tidur REM.

Tidur REM merupakan 25% tidur orang dewasa muda. Biasanya berulang kurang lebih setiap 90 menit selama 5-30 menit. Tidur REM tidak seperti tenangnya tidur NREM. Selanjutnya mimpi biasanya dingat karena tergabung dalam memori (Guyton, 1991, dalam Kozier, 1995).

Selama tidur REM, otak sangat aktif dan metabolisme otak dapat meningkat mencapai 20%. Tidur tipe ini juga disebut sebagai tidur paradoks (paradoxical sleep) karena tampak seperti berlawanan, dimana individu untuk beberapa hal menjadi lebih aktif. Adapun karakteristik tidur REM adalah seperti tampak pada tabel 2:

Tabel 2    Karakteristik tidur REM

  • Terjadi mimpi aktif, dan mimipi dapat diingat
  • Sukar dibangunkan atau dapat bangun secara spontan
  • Depresi tonus otot.
  • Denyut jantung dan respirasi seringkali ireguler
  • Terjadi gerakan otot ireguler-terutama pergerakan mata yang cepat (rapid eye movement)
  • Metabolisme otak meningkat
  • Rahang bawah relaksasi

Bila seseorang sangat lelah atau letih, maka durasi setiap tidur REM menjadi sangat pendek atau bahkan tidak terjadi tidur REM. Orang yang lebih banyak istirahat atau tidur malam hari, maka durasi tidur REM meningkat (Guyton, 1991, dalam Kozier, 1995).

Siklus Tidur

Selama satu siklus tidur, orang akan melewati 4 tahap tidur NREM, biasanya selama kurang lebih 1 jam pada orang dewasa. Orang yang tidur (sleeper) dimulai dari tahap 1 tidur NREM kemudian ke tahap 2 – 3 dan 4 selama kurang lebih 20-30 menit. Tahap 4 memerlukan waktu sekitar 30 menit. Setelah tahap 4 kemudian kembali ketahap 3 selanjutnya tahap 2. Setelah itu memasuki tahap tidur REM, kurang lebih selama 10 menit. Urutan tersebut merupakan siklus tidur pertama yang lengkap (Lihat gambar 1, halaman 17). Biasanya sleeper mengalami 4-6 siklus tidur selama 7-8 jam. Setiap siklus lamanya sekitar 70 menit (Kozier, 1995) sampai dengan 90 menit (Wong, 1995). Orang tidur yang terbangun selama tahapan tidur ini akan memulai tidur kembali pada tahap 1 tidur NREM dan kemudian diikuti oleh tahapan lainnya serta tidur REM. Semakin tenang seseorang, siklus tidur menjadi panjang.

Durasi tahap tidur NREM dan tidur REM bervariasi selama 8 jam periode tidur. Dengan semakin larutnya malam orang yang tidur menjadi berkurang kelelahannya dan rentang waktu tidur tahap 3 dan 4 NREM juga berkurang. Sementara itu, tidur REM meningkat dan mimipi cenderung memperpanjangnya. Jika orang yang tidur sangat kelelahan, siklus REM sering kali menjadi pendek. Sebelum tidur berakhir, terjadi periode mendekati terjaga dan tahap 1 dan 2 NREM serta tidur REM mendominasi (Kozier, 1995).

Fungsi Tidur

Tidur mempunyai efek fisiologis baik pada sistem saraf maupun struktur tubuh lainnya. Tidur memperbaiki aktifitas pada tingkatan normal dan keseimbangan normal diantara bagian sistem saraf (Guyton, 1991). Efek tidur pada tubuh tidak difahami, tetapi diketahui bahwa aktifitas sistem saraf simpatetic lebih tinggi pada seseorang ketika sedang terjaga, karena impuls terhadap otot tubuh akan meningkatkan tonus otot. Selama tidur, aktifitas sistem saraf parasimpatis meningkat menyebabkan perubahan fisiologis seperti telah disebutkan di atas. Tidur juga penting untuk sintesis protein, yang memungkinkan terjadinya proses perbaikan (Dorociak, 1990, dalam Kozier, 1995).

Diyakini bahwa memelihara dan mempertahankan irama terjaga-tidur yang teratur (reguler sleep-wake rhythm) adalah lebih penting dari pada banyaknya jam tidur (Kozier, 1995). Beberapa orang, sebagai contoh, dapat berfungsi dengan baik hanya dengan mengalami tidur yang sedikit: 5 jam setiap malam.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tidur

Baik kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh banyak faktor. Kualitas tidur (quality of sleep) mengandung arti kemampuan individu untuk tetap tidur dan bangun dengan jumlah tidur REM dan NREM yang cukup. Sedangkan yang dimaksud dengan kuantitas tidur (quantity of sleep) adalah total waktu tidur individu (Kozier, 1995).

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tidur menurut Kozier (1993) adalah faktor usia, lingkungan, kelelahan (fatigue), gaya hidup, stres psikologis, alkohol dan stimulant, diet, merokok, motivasi, sakit, dan medikasi. Sedangkan menurut Potter dan Perry (1993) faktor yang mempengaruhi tidur individu meliputi keadaan sakit fisik, obat dan zat, gaya hidup, pola tidur, stres emosional, lingkungan, latihan dan kelelahan, dan asupan kalori. Sementara itu menurut Craven dan Hirnle (2000) mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi tidur individu meliputi kebutuhan (need); lingkungan (termasuk kebisingan, pencahayaan/ penerangan (light) dan temperatur), hubungan, kerja sif, nutrisi dan metabolisme, pola eliminasi, latihan dan termoregulasi, kewaspadaan (vigilance), kebiasaan dan gaya hidup, sakit, medikasi dan zatkimia, dan kondisi alam perasaan (mood).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi tidur individu meliputi faktor usia, lingkungan, kelelahan (fatigue), gaya hidup, stres psikologis, alkohol dan stimulant, diet dan metabolisme, merokok, motivasi, sakit, medikasi, pola tidur, lingkungan, latihan dan kelelahan, kebutuhan (need), temperatur, hubungan (relationships), kerja sif, pola eliminasi, dan kewaspadaan (vigilance). Beberapa diantara faktor tersebut akan diuraikan berikut ini.

Usia (Tingkat Perkembangan)

Usia merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat seseorang. Variasi pola tidur menurut usia diperlihatkan pada tabel 3.

Tabel 3   Pola tidur menurut usia (Kozier, 1995)

Tingkat Perkembangan

Pola Tidur Normal

Bayi Baru Lahir

Infan

Todler

§      Tidur 14-18 jam perhari

§      50% tidur REM

§      Lebih banyak tidur tahap 1 dan 4 NREM

§      Siklus tidur ± 45-60 menit

§      Tidur 12-14 jam perhari

§      20-30% tidur REM

§      Tidur panjang pada malam hari (8-10 jam) dan mempunyai pola yang sebentar

§      Pada 12 bulan, sekali atau 2 kali sehari

§      Tidur ± 10-12 jam perhari

§      25% tidur REM

§      Lebih banyak tidur malam

§      Tidur pagi berkurang

§      Siklus terjaga-tidur normal lebih banyak pada 2 atau 3 tahun

Prasekolah

Usia Sekolah

Remaja

Dewasa Muda

Dewasa Pertengahan

Dewasa Tua

§      Tidur ± 11 jam pada malam hari

§      20% tidur REM

§      Tidur kedua berkurang terutama pada usia 3 tahun

§      Pada usia 5 tahun, tidur disiang hari tidak terjadi, kecuali jika dibiasakan.

§      Tidur ± 10 jam pada malam hari

§      18,5% tidur REM

§      Waktu tidur relatif tetap

§      Tidur ± 8,5 jam perhari

§      20% tidur REM

§      Tidur 7-9 jam sehari tetapi waktunya berfariasi.

§      20-25% tidur REM

§      5-10% tidur tahap 1

§      50% tidur tahap 2

§      10-20% tidur tahap 3 dan 4

§      Tidur ± 7 jam sehari

§      ± 20% tidur REM

§      Dapat menglami insomnia

§      Tidur ± 6 jam sehari

§      20-25% tidur REM

§      Tidur tahap 4 menurun bahkan kadang-kadang tidak sampai tidur tahap 4

§      Periode REM pertama lama/panjang

§      Lebih sering terbangun malam hari.

§      Memerlukan waktu lebih lama untuk jatuh tidur.

Lingkungan

Lingkungan dapat meningkatkan atau juga dapat menganggu/ menghalangi tidur. Adanya perubahan-seperti contoh tingkat kebisingan lingkungan-dapat menghalangi/mengganggu tidur. Tidak adanya stimuli yang biasanya ada atau adanya stimuli yang tidak familier/tidak biasanya ada dapat mengganggu tidur seseorang. Banyak orang dapat tidur dengan baik  dilingkungan rumahnya sendiri.

Kelelahan (fatigue)

Diketahui bahwa seseorang yang mengalami kelelahan sedang biasanya dapat tidur dengan tenang/nyenyak. Kelelahan dapat juga mempengaruhi pola tidur seseorang. Orang yang menglami kelelahan berlebihan memperpendek periode pertama tidur paradoksikal (REM). Pada orang yang istirahat, periode REM menjadi panjang/lama.

Gaya hiduP

Orang yang bekerja dengan shift dan seringnya perubahan shift harus menyusun aktifitas sehingga orang tersebut siap untuk tidur pada waktu/saat yang benar/tepat. Latihan yang moderat biasanya mengkonduksi tidur, akan tetapi latihan yang berlebihan dapat menyebabkan lambat/tertundanya tidur. Kemampuan seseorang untuk relak sebelum memasuki tidur merupakan faktor penting yang mempengaruhi kemampuannya untuk jatuh tidur.

Stres psikologis

Kecemasan dan depresi seringkali menganggu tidur. Orang yang dipenuhi dengan problem pribadi mungkin tidak mampu untuk relak dengan cukup  yang dapat membawanya menjadi tidur. Kecemasan meningkatkan kadar norepinephrin di dalam darah melalui stimulasi sistem saraf simpatis. Zat kimia ini mengakibatkan perubahan pada berkurangnya tidur tahap IV NREM dan tidur REM serta terbangun. (Closs, 1988, hal. 49).

Alkohol dan stimulant

Orang yang meminum berlebihan alkohol  seringkali mengalami gangguan tidur. Alkohol yang berlebiha mengganggu tidur REM, diperkirakan dapat mempercepat onset tidur. Dapat juga menyebabkan mimipi buruk. Toleransi terhadap alkohol juga mempengaruhi tidur. Orang yang mentoleransi alkohol mungkin tidak dapat tidur dengan baik dan menjadi iritabel. Minuman yang mengandung caffein berperan sebagai stimulant terhadap sistem saraf pusat, sehingga mengganggu tidur.

Diet

Penurunan dan penambahan berat badan dapat mempengaruhi tidur. Penurunan berat badan mempunyai kaitan dengan penurunan total waktu tidur sehingga mengganggu tidur dan terjaga lebih dini. Penambahan berat badan, pada sisi lain mempunyai kaitan dengan peningkatan total waktu tidur, berkurangnya gangguan tidur dan later waking.

Asam amino L-tryptophan diperkirakan mempengaruhi tidur. L-tryptophan dalam diet-misalnya yang terdapat pada keju, susu, daging sapi dan ikan tuna-dapat menginduksi tidur merupakan suatu fakta yang dapat menjelaskan mengapa meminum susu hangat dapat membantu banyak orang untuk tidur.

Merokok

Nikotin mempunyai efek perangsangan pada tubuh. Pada orang perokok seringkali mempunyai kesulitan untuk jatuh tidur (falling asleep) dari pada orang yang bukan perokok. Selain itu perokok biasanya lebih mudah dibangunkan dan seringkali saat tidur, orang perokok memperlihatkan gambaran seperti tidur ringan. Dengan cara menahan diri agar tidak merokok setelah makan sore, seseorang biasanya dapat tidur lebih baik; selain itu beberapa perokok melaporkan bahwa pola tidurnya membaik sehari setelah mereka menghentikan merokok.

Motivasi

Dorongan untuk tetap terjaga dapat mengatasi kelelahan/kepenatan seseorang. Seperti contoh, orang yang kelelahan mungkin dapat tetap terjaga dengan perhatian pada hal-hal yang diminatinya. Ketika orang bosan dan tidak mempunyai motivasi untuk tetap terjaga, maka seringkali dapat dengan mudah untuk tidur.

Sakit

Orang yang sakit membutuhkan lebih banyak tidur dari pada normal, dan irama normal tidur dan terjaga seringkali terganggu. Orang yang kehilangan tidur REM mengakibatkan waktu tidur lebih banyak dari normal. Nyeri juga mempengaruhi tidur-juga mencegah tidur atau menjadi terjaga.

Kondisi respirasi dapat mengganggu tidur klien. Nafas yang pendek membuat sukar tidur. Penelitian juga mengindikasikan bahwa hipoksia dan hiperkapnia dapat mengganggu tidur normal (Closs, 1988 dalam Kozier, 1995).

Orang yang menderita ulkus gaster (gastric ulcer) dan ulkus duodenum dapat terganggu tidurnya karena nyeri. Peningkatan rasa nyeri tersebut sering disebabkan oleh meningkatnya sekresi gaster yang terjadi selama tidur REM.

Gangguan endokrin tertentu dapat juga mempengaruhi tidur. Hipertiroidisme memperpanjang masa sebelum tidur (presleep), seringkali membuat sulit bagi klien untuk jatuh tidur. Hipotiroidisme dapat menurunkan tidur NREM tahap 4. Peningkatan suhu tubuh dapat menyebabkan penurunan pada tidur NREM tahap 3 dan 4, serta tidur REM. Kebutuhan untuk urinasi selama malam hari (enuresis) juga mengganggu tidur, dan orang dapat bangun di malam hari untuk urinasi kadang-kadang mengalami kesulitan untuk kembali tidur.

Medikasi

Beberapa medikasi mempengaruhi kualitas tidur. Hipnotics (seperti secobarbital) dapat mengganggu tidur tahap 3 dan 4 serta mensupresi tidur REM. Beta-blocker diketahui menyebabkan insomnia dan mimpi buruk. Narkotik, seperti meperidine hidrochloride (Demerol) dan morphin diketahui mensupresi tidur REM dan menyebabkan seringkali terbangun dan perasaan mengantuk. Tranquilizer mengganggu tidur REM. Amphetamine dan antidepresant menurunkan tidur REM secara abnormal. Klien yang menghindari obat-obat tersebut dapat mencapai tidur REM lebih dari biasanya (Kozier, 1995).

Gangguan Tidur

Pemahaman tentang gangguan-gangguan tidur yang umum terjadi akan membantu perawat memperoleh atau mengumpulkan data-data yang relevan. Menurut Kozier (1995) gangguan tidur dapat dikategorikan sebagai gangguan primer, gangguan sekunder dan parasomnia. Gangguan tidur primer merupakan gangguan tidur seseorang yang tidak berkaitan dengan gangguan klinis lainnya. Gangguan-gangguan tersebut meliputi insomnia, hipersomnia, narcolepsi, sleep apnea, dan parasomnia. Gangguan tidur sekunder adalah gangguan tidur yang disebabkan oleh gangguan klinik lainnya seperti disfungsi tiroid, depresi, atau alkoholisme (Kozier 1995).

Insomnia

Insomnia, adalah gangguan tidur yang lebih umum terjadi, merupakan suatu ketidakmampuan untuk memperoleh jumlah atau kualitas tidur yang adekuat. Orang yang menderita insomnia tidak merasakan kesegaran ketika bangun pagi. Terdapat 3 tipe insomnia, yaitu kesulitan untuk memulai tidur (initial insomnia), kesulitan untuk tetap tidur karena sering terjaga (intermittent atau maintenance insomnia), dan bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur kembali (terminal insomnia/premature awakening).

Insomnia dapat diakibatkan dari rasa tak nyaman (discomfort) fisik tetapi lebih sering merupakan akibat overstimulasi mental sehingga terjadi kecemasan. Orang kadang-kadang menjadi cemas karena mereka memikirkan kenapa tidak dapat tidur. Orang yang terbiasa minum obat dan minum banyak alkohol lebih mudah mengalami insomnia.

Penanganan untuk insomnia seringkali perlu mengembangkan pola perilaku baru yang menginduksi tidur. Kegunaan obat tidur masih diragukan. Karena obat tidak dapat menghilangkan penyebab masalah, dan penggunaan dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan ketergantungan obat (drugs dependencies).

Hipersomnia

Hipersomnia berlawanan dengan insomnia, yaitu tidur yang berlebihan, khususnya di siang hari. Orang hipersomnia seringkali tidur sampai pagi hari dan dapat tidur lagi selama siang hari. Hipersomnia disebabkan oleh kondisi medik seperti akibat kerusakan sistem saraf pusat dan gangguan ginjal, hati atau gangguan metabolik tertentu seperti diabetik acidosis dan hipertiroidisme. Dalam beberapa hal orang menggunakan insomnia sebagai mekanisme koping untuk menghindar dari tanggung jawab di siang hari.

Narkolepsi

Narkolepsi-berasal dari bahasa Greek, ‘narco‘ yang berarti ‘numbness‘ mati rasa, dan ‘lepsis‘ yang berarti ‘sizure‘ serangan-adalah suatu serangan tidur yang mendadak yang terjadi selama siang hari; oleh karena itu narkolepsi disebut juga serangan tidur “sleep attack”. Penyebabnya tidak diketahui, ada anggapan yang meyakini karena adanya kerusakan genetikpada sistem saraf pusat yang menyebabkan tidur REM tidak dapat dikontrol. Pada serangan narkolepsi, tidur dimulai dengan fase REM. Narkolepsi seringkali dikontrol oleh suatu stimulant sistem saraf pusat, seperti pemoline atau deanol.

Henti Nafas Saat Tidur (Sleep Apnea)

Sleep apnea adalah masa henti bernafas selama tidur. Gangguan ini perlu dikaji oleh seorang yang ahli tentang tidur, tetapi sering terjadi pada orang yang tidur mendengkur dengan keras, sering terjaga/bangun dimalam hari, tidur disiang hari yang berlebihan, insomnia, nyeri kepala pada pagi hari, kemunduran intelektual, iritabel atau perubahan kepribadian lainya dan perubahan fisiologis seperti hipertensi dan aritmia jantung (Weaver & Willman, 1986, dalam Kozier, 1995). Sleep apnea lebih sering dialami laki-laki lebih dari 50 th dan wanita postmenopaus.

Periode apnea, dapat berlangsung dari 10 detik sampai dengan 2 menit. Biasanya sleep apnea terjadi selama tidur REM atau NREM. Frekuensi kejadianya berkisar antara 50-600 kali dalam satu malam. Peristiwa apnea ini menghabiskan energi seseorang dan menyebabkan tidur siang hari yang berlebihan.

Terdapat tiga tipe yang umum dari henti nafas saat tidur (sleep apnea) adalah sebagai berikut:

Apnea Obstruksi (Obstructive Apnea)

Tipe ini terjadi ketika struktur paring atau rongga mulut menutupi aliran udara. Orang akan terus mencoba untuk bernafas yaitu dengan bergeraknya dada dan otot abdomen. Pergerakan diafragma menjadi kuat dan kekuatan tersebut semakin meningkat samapai obstruksi dapat dihilangkan. Pembesaran tonsil, deviasi septum hidung, dan polip hidung merupakan predisposisi terjadinya abstruktive apnea.

Apnea Sentral (Central Apnea)

Tipe ini terjadi karena adanya defect pada pusat respirasi di otak. Semua kegiatan bernafas, seperti pergerakan dada dan mengalirnya udara berhenti. Klien yang mengalami injuri pada batang otak dan distropi muscular seringkali mengalami central sleep apnea. Sampai saat ini tidak tersedia pengobatannya.

Apnea Campuran (Mixed Apnea)

Tipe terakhir ini merupakan kombinsai atau gabungan dari central apnea dan obstruktive apnea. Suatu peristiwa sleep apnea dimulai dengan mendengkur, sesudah itu berhenti bernafas, diikuti oleh mendengus-dengus sebagai tanda memulai kembali bernafas. Menuju akhir setiap episode apnea, terjadi peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah yang menyebabkan klien terbangun. Pengobatan harus diarahkan pada penyebab apnea, misalnya jika disebabkan oleh pembesaran tonsil maka dapat diangkat. Penggunaan alat pada hidung yaitu continous positive airway pressure (CPAP) pada malam hari seringkali efektif.

Sleep apnea dapat mempengaruhi penampilan kerja maupun sekolah. Selain itu sleep apnea yang lama dapat menyebabkan peningkatan tajam pada tekanan darah dan dapat juga menyebabkan aritmia jantung, hipertensi pulmoner dan kemudian kegagalan jantung kiri.

Parasomnia

Parasomnia menunjukan suatu kelompok perilaku terjaga yang berkaitan dengan tidur. Terdapat 5 macam parasomnia, yaitu :

§         Somnambulism

Tipe ini disebut juga tidur jalan (sleepwalking) terjadi selama tahap 1 dan 4 tidur NREM. Somnambulism bersifat episodik dan biasanya terjadi 1-2 jam setelah jatuh tidur. Orang yang tidur berjalan cenderung tidak memperhatikan  (misalnya : jatuh dari tangga) dan seringkali memerlukan perlindungan dari injuri.

§         Mengigo (Sleeptalking)

Berbicara selama tidur terjadi selama tidur NREM sebelum tidur REM. Pada tipe ini jarang terdapat masalah pada yang mengalami kecuali terhadap yang lainnya.

§         Nocturnal enuresis

Ngompol (bedwetting) selama tidur biasanya terjadi pada anak-anak diatas 3 tahun. Lebih sering pada anak laki-laki dari pada wanita. Seringkali terjadi 1-2 jam setelah jatuh tidur, ketika mencapai tidur tahap 1 sampai dengan tahap 4 tidur NREM.

§         Ereksi tidur malam (Nocturnal erection)

Ereksi dimalam hari dan mimpi basah terjadi selama tidur REM. Kondisi ini umumnya diimulai selama masa remaja dan tidak menyebabkan gangguan tidur yang bermakna.

§         Bruxism

Biasanya terjadi selama tahap 2 NREM, terjadi gesekan diantara gigi, dapat menyebabkan ujung gigi menjadi patah dan lepasnya gigi.

Kehilangan Tidur (Sleep Deprivation)

Gangguan yang berlangsung lama mengakibatkan menurunnya jumlah, kualitas dan konsistensi tidur dan dapat menyebabkan suatu sindrome yang disebut sebagai kehilangan tidur (sleep deprivation). Ini bukan merupakan gangguan tidur itu sendiri tetapi merupakan akibat dari gangguan/perubahan tidur. Kehilangan tidur menimbulkan bermacam-macam gejala baik fisiologis maupun perilaku, dimana beratnya tergantung dari tingkatan  kehilangan tidur. Dua tipe utama kehilangan tidur  yaitu kehilangan tidur REM dan kehilangan tidur NREM. Kombinasi/gabungan keduanya dapat meningkatkan beratnya gejala yang muncul. Tabel 3 menunjukan tipe, penyebab dan tanda kehilangan tidur.

Tabel 3   Tipe, Penyebab dan Tanda Kehilangan Tidur (sleep depripation)

Tipe Sebab Tanda Klinis
Kehilangan REM §      Alkohol

§      Barbiturat

§      Kerja shift

§      Dirawat diruang ICU

§      Morpin

§      Demerol

§     Gelisah

§     Iritabel

§     Meningkatnya sensitifitas terhadap nyeri.

§     Bingung

§     Curiga.

§     Emosi labil.

Kehilangan NREM

Kehilangan REM

dan NREM

§      Selain hal di atas

§      Diazepam (valium)

§      Dalmane

§      Hipotiroid

§      Depresi

§      Distres respiratori

§      Sleep apnea

§      Usia (umumnya lansia).

§      Sama seperti diatas

§     Withdrawal

§     Apatis

§     Hiporesponsif

§     Merasa tidak nyaman fisik

§     Ekspresi wajah berkurang

§     Kemunduran berbicara

§     Tidur berlebihan

§     Menurunnya kemampuan mengemukakan alasan (penilaian) dan kemampuan berkonsentrasi

§     Tidak perhatian

§     Kelelahan berat yang dimanifestasikan oleh:

-     Penglihatan kabur

-     Gatal pada mata

-     Nausea

-     Nyeri kepala.

-     Kesulitan melakukan aktivitas harian

-     Kurang memori

-     Mental confusion

-     Halusinasi pandang dan dengar

-     Ilusi

TIDUR DAN HOSPITALISASI

Hospitalsasi adalah suatu periode dimana seseorang menjalani pengobatan, perawatan dengan tinggal di rumah sakit selama waktu tertentu (Miller & Keane, 1983).  Pada saat seseorang mengalami masalah kesehatan dan harus mencari fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalahnya, maka pada saat orang tersebut masuk dan dirawat di rumah sakit, ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan peran yang baru sesuai dengan kondisi sakitnya. Menjadi seorang pasien, mengharuskan seseorang untuk mengadopsi peran yang baru. Respon seseorang terhadap peran sebagai seorang pasien bergantung pada latar belakang keluarga dan kulturalnya, yang mengajarkan mereka bermacam-macam interpretasi dari perilaku yang tepat bagi orang sakit dan pengalaman sebelumnya sebagai orang sakit.

Perubahan lingkungan dapat mempengaruhi pola tidur seseorang (Potter & Perry, 1993). Rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dapat menghambat seseorang untuk mendapatkan tidur yang adekuat. Menurut Agnew, dkk dalam Potter dan Perry (1993) masalah tidur ini terutama terjadi pada hari pertama di rawat di rumah sakit, ditandai dengan bertambahnya jumlah waktu bangun, sering terbangun dan berkurangnya tidur REM serta jam tidur.

Banyak faktor mempengaruhi tidur pasien dirumah sakit. Narrow (1967) dalam Kozier (1995) menyatakan bahwa gangguan tidur pada pasien yang dirawat dirumah sakit disebabkan oleh tidak terpenuhinya beberapa faktor yang menjadi persyaratan agar pasien dapat tidur dengan baik. Persyaratan tersebut antara lain perasaan diterima, perasaan terkontrol, bebas dari iritasi dan ketidaknyamanan, mahami apa yang sedang terjadi, perasaan puas terhadap intervensi yang bermanfaat, mengetahui adanya pertolongan atau bantuan segera jika memerlukan, dan familieritas terhadap lingkungan.

a.       Perasaan Diterima

Rumah sakit, khususnya bagi pasien yang baru pertama kali menjalani rawat inap, merupakan lingkungan baru baginya. Staf keperawatan dan petugas kesehatan lainnya seta pasien lain yang berada dalam satu ruangan dengan pasien  bila tidak menunjukan sikap menerima kehadiran pasien dapat menjadi penyebab terjadinya gangguan tidur.

b.      Perasaan Terkontrol

Seringkali pasien baru mendapatkan banyak terapi antara lain melalui infus atau cara lainnya. Bila pasien tidak mendapatkan penjelasan yang memadai tentang bagaimana perawat dapat melakukan monitor dan mengontrol secara terus menerus, mengawasi kelancaran dan kepatenan tetesan infus, serta kapan penambahan atau penggantian cairan akan diberikan, maka pasien akan selalu perhatiannya tertuju pada hal-hal terkait dengan infusnya dan ketakutan terhadap berbagai kemungkinan terburuk yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan tidur.

c.       Bebas dari iritasi dan ketidaknyamanan

Iritasi dan ketidaknyamanan merupakan salah satu penyebab gangguan tidur. Reimer, M.A. (1985) dalam Craven dan Hirnle (2000) menyebutkan kesulitan menemukan posisi yang nyaman dan rasa sakit sebagai faktor yang paling dominan mempengaruhi gangguan tidur pasien.

d.      Memahami apa yang sedang terjadi

Pemahaman pasien tentang apa yang terjadi pada dirinya, mendorong klien dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif, menurunkan kecemasan dan membuatnya lebih relak. Kondisi ini pasien untuk dapat lebih mudah tidur.

e.       Perasaan puas terhadap intervensi yang bermanfaat

Seringkali pasien yang terganggu kesehatannya dan dirawat dirumah sakit mendapatkan berbagai intevensi, baik pemeriksaan maupun pengobatan. Sering pula berbagai pemeriksaan dan pengobatan tersebut tidak difahami secara jelas oleh pasien, termasuk kemungkinan hasilnya. Dalam keadaan demikian pasien dapat mengalami gangguan tidur.

f.        Mengetahui adanya pertolongan atau bantuan segera

Pada pasien yang mengalami sakit dan dirawat dirumah sakit seringkali dihadapkan pada berbagai kondisi yang tidak dapat diprediksi. Bila pasien tidak mengetahui akan adanya pertolongan atau bantuan segera jika sewaktu-waktu ia membutuhkan menyebabkan timbulnya kecemasan. Kondisi ini dapat berlanjut terhadap terjadinya gangguan tidur.

g.       Familieritas terhadap lingkungan

Lingkungan rumah sakit, bagi pasien yang baru pertama kali di rawat inap dirumah sakit, merupakan hal yang asing. Ketidaktahuan pasien dimana letak kamar mandi, dapur, dll, menyebabkan pasien akan menahan keinginan untuk buang air kecil atau buang air besar, yang pada akhirnya mengganggu istirahat dan tidur pasien.

Selain persyaratan diatas, faktor yang dapat mempengaruhi pola tidur selama hosptalisasi diantaranya adalah kegiatan rutin rumah sakit, tempat tidur, suara atau bunyi, pencahayaan atau penerangan, temperatur ruangan dan teman sekamar (Kozier, 1995). Bagi klien yang baru pertama kali dirawat biasanya menjalani lebih banyak tindakan pemeriksaan oleh beberapa orang, tidak pernah mempunyai gambaran tentang dirawat di rumah sakit, perubahan lingkungan yang tiba-tiba, staf yang masih sangat asing, menimbulkan stress tersendiri bagi klien. Menurut Black (1997) faktor-faktor yang mempengaruhi pola tidur selama di rawat diantaranya berhubungan dengan usia dan kebiasaan sebelum tidur.

Faktor usia berpengaruh terhadap tidur seseorang. Dengan bertambahnya usia, sesorang dapat mengalami kesulitan untuk tidur, bertambah sering terbangun di malam hari dan sukar istirahat di waktu siang hari. Faktor psikologis dapat berupa rasa nyeri, perasaan cemas akan penyakitnya dan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya dapat menyebabkan gangguan tidur (Potter dan Perry, 1993).

Terdapat tiga jenis suara yang mempengaruhi tidur seseorang selama di rawat dirumah sakit, yaitu lingkungan yang bising, tindakan atau prosedur yang menimbulkan kebisingan, dan komunikasi antar staf di rumah sakit (Potter dan Perry, 1993). Tingkat kebisingan yang tercatat disuatu unit perawatan kritis antara pukul 22.15 – 03.00 berkisar antara 72-75 desibel, sama seperti suara pada sebuah kantor yang berisik (Snyder dan Halpern, 19985). Dalam suatu percobaan dengan subyek sukarelawan, menunjukan kebisingan pada unit kritis, berasal dari suara staf dan klien (Craven dan Hirnle, 2000).

Kecemasan meningkat karena penyakit dan hospitalisasi. Hal ini berhubungan dengan pemeriksaan dan operasi. Diagnosis dan dampak terhadap keluarga  dan pekerjaan merupakan hal lain yang diidentifikasi sebagai penyebab gangguan tidur.

Hospitalisasi menimbulkan ancaman terhadap kesehatan mental klien. Menurut Ellis dan Nowlis (1994) ancaman yang dirasakan oleh klien yang dirawat di rumah sakit meliputi antara lain:

a.       Perubahan fisik dan kemampuan fungsional

Individu yang dirawat mengalami perubahan fisik yang bervariasi mulai dari sakit ringan sampai berat. Perubahan ini membutuhkan penyesuaian terhadap citra tubuh (body image). Perubahan pada tubuhnya membuat klien merasa ragu, apakah  ia masih dapat melakukan peran yang biasa ia lakukan, apa yang difikirkan orang lain tentang dirinya, apakah dengan kondisinya yang sekarang, mengubah pelakukan orang lain terhadapnya.

b.      Kehilangan privasi

Klien yang dirawat akan diberkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi oleh beberapa orang yang berbeda. Pemeriksaan fisik dapat mengganggu kesopanan. Di rumah sakit barang-barang milik klien sering kali diperiksa, diinventaris dan disimpan disuatu tempat yang aman. Kebutuhan akan eliminasi dilakukan ditempat tidur, dimana ada orang lain di kamar tersebut dan klien hanya ditutup oleh sebuah sampiran.

c.       Kehilangan kontrol

Pada seting rumah sakit, tindakan pemeriksaan harus dilakukan, berbagai formulir harus diisi, dan perencanaan perawatan dibuat oleh orang lain. Kondisi itu membuat klien merasa di atur. Kehilangan kontrol bisa menjadi sebuah ancaman terhadap citra diri dan kemudian menimbulkan kecemasan.

d.      Ketidakpastian tentang perilaku yang diharapkan

Klien sering merasakan ketidakpastian tentang apa yang harus mereka lakukan. Klien bertanya-tanya bagaimana seharusnya mereka bersikap, apakah boleh bertanya, apakah ia boleh meminta obat penghilang sakit atau apakah ia akan diberikan penghilang sakit tanpa memintanya.

e.       Rutinitas yang asing

Di rumah sakit harus mengadopsi pola hidup baru. Jadwal dan aturan di rumah sakit mungkin sangat berbeda dengan jadwal harian klien dan hal ini mengganggu rasa nyaman klien.

f.        Kehawatiran tentang pengeluaran

Biaya kesehatan meningkatkan dengan cepat sehingga timbul kehawatiran bagi klien apakah nanti akan dapat membayar biaya kesehatan yang mahal.

g.       Ketidakpastian tentang hasil pengobatan.

Perasaan takut dapat muncul pada klien setelah mengetahui tentang keseriusan penyakitnya. Ketakutan tentang kelanjutan dari penyakitnya yang tidak dapat diprediksi, kehawatiran tentang proses pengobatan yang lama dan kehawatiran tidak bisa bangun lagi setelah dibius. Tetapi pengungkapan secara gamblang dan lengkap tentang efek yang mungkin timbul akibat pengobatan juga menimbulkan rasa takut yang berlebihan.

PENELITIAN TERKAIT TIDUR

Penelitian terkait dilakukan oleh Nuraini, dkk (2001) tentang gangguan pola tidur pasien 2-11 hari pasca operasi yang dilakukan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Menggunakan desaian deksriptif eksploratif yang dilakukan pada 50 orang pasien yang terdiri dari 36% dewasa awal (20-30 tahun) dan 64% dewasa menengah (31-50 tahun) dengan 2-11 hari pasca operasi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa gangguan tidur pada pasien dewasa awal umumnya disebabkan oleh nyeri (34,5%), takut penyakit berulang (17,24%), cemas tidak kembali normal (10,34%), tindakan perawat (10,34%), demam (2%), dan lain-lain-termasuk batuk, demam, cemas pada keluarga dirumah, hujan, sulit ubah posisi, dan sulit buang air (25,58%). Sedangkan gangguan pada pasien dewasa menengah disebabkan oleh nyeri (32,8%), takut penyakit berulang (15,5%), cemas tidak kembali normal (15,5%), tindakan perawat (3,5%), pusing (5,2%), demam (5,2%), dan lain-lain-termasuk sesak nafas, berkeringat, ingin buang air kecil, perut kembung, pasien lain teriak/ngamuk, gatal divagina, udara panas dan dingin, gastritis, dan tidak nyaman (25,58%).

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa gangguan pola tidur dialami oleh pasien pasca operasi, baik pada pasien dewasa awal maupun pada pasien dewasa menengah. Gangguan tidur lebih besar terjadi pada pasien dewasa menengah, pasien wanita dan pasien yang menggunakan anestesi umum. Gangguan pola tidur yang mereka alami belum menjadi perhatian perawat, padahal gangguan pola tidur ini dapat berdampak pada pemulihan kesehatan dan emosi.

Reimer, M.A. (1985) dalam Craven dan Hirnle (2000)  melakukan penelitian pada 143 klien dewasa diruang rawat medical bedah sebuah rumah sakit di Amerika. Reineir mendapatkan data bahwa stimulus yang dapat mengganggu tidur di rumah sakit meliputi kesulitan menemukan posisi yang nyaman (62%), rasa sakit (58%), kehawatiran tentang hasil pemeriksaan (30%), kehawatiran tentang keluarga, pekerjaan dan pengaturan di rumah (25%), ketidaknyamanan karena pakaian, balutan, dll (25%), lampu terlalu terang (25%), ketakutan pada saat pencabutan selang (20%), kurang latihan (18%), temperatur (17%), suara ribut dari televisi dan radio (17%), kebisingan kantor perawatan (25%), lingkungan tidak dikenal (18%), kebiasaan sehari-hari yang terganggu (20%) tempat tidur yang tidak nyaman (10%), tidur siang (10%), dan tidur sendirian (10%).

Kesimpulan dari hasil penelitian didapatkan bahwa stimulus yang paling banyak mengganggu tidur klien di ruang medical bedah adalah kesulitan menemukan posisi yang nyman (62%) dan rasa takut (58%).

Penelitian terkait lainnya dilakukan Topf (1992) dalam Ellis dan Nowlis (1994) tentang efek kontrol personal kebisingan rumah sakit terhadap tidur. Lebih dari 100 wanita sukarelawan yang ditempatkan dalam suatu simulasi lingkungan rumah sakit yang tingkat kebisingannya tinggi. Secara random dipilih subjek yang diberikan perintah pemakaian alat pengontrol kebisingan.  Sementara itu subjek lainnnya tanpa pengontrol. Wanita yang tanpa menggunakan pengontrol terhadap tingkat kebisingan mengalami gangguan tidur sepanjang malam, yang menyebebkan mereka tidak dapat jatuh tidur (falliung asleep), tidak dapat mempertahankan tidur, dan tidak dapat melanjutkan dari satu tahapan tidur ke tahap lainnya. Mereka juga mengalami kehilangan tidur REM secara total.

Studi ini meyakinkan betapa pentingnya mengontrol kebisingan didalam rumah sakit sehingga pasien dapat tidur secara adekuat. Penelitian ini juga mendukung pentingnya pengontrolan lingkungan baik bagi pasien maupun staf keperawatan.

Penelitian terkait juga dilakukan Hilton (1987) dalam Potter dan Perry (1993) dengan judul “kebisingan rumah sakit: bagaimana kebisingan di unit anda?”. Hilton mengukur tingkatan bunyi di dalam ruangan klien untuk menentukan  sumber dan intensitas bunyi. 25 klien dalam 7 unit (4 unit perawatan intensif dan 2 unit medical bedah) yang melibatkan 3 rumah sakit. Mikropon diletakan didekat kepala setiap klien. Tingkatan bunyi selanjutnya diukur selama 24 jam.

Berbagai peralatan yang umumnya terdapat dirumah sakit menimbulkan bunyi yang berlebihan. Suatu alarm pengontrol intravena menimbulkan kebisingan 44-80 desibel, suatu alarm monitor jantung 44-78 desibel, suara dari intercom 60-70 desibel, dan menyobek kertas menimbulkan kebisingan 41-81 desibel. Bunyi menyebabkan kebisingan pada 35-40 desibel. Selain itu, bunyi diatas 50 desibel dapat meningkatkan persepsi nyeri (Minckley, 1968 dalam Potter dan Perry, 1993).

Penelitian Hilton menemukan bahwa bunyi dapat diturunkan secara bermakna melalui menutup pintu ruangan klien. Dengan menutup pintu, tingkatan bunyi dapat menurun 6-18 desibel, tergantung pada sumber kebisingannya.

Southwell, M., & Wistow, G (1995) dalam Taylor, dkk (1997) melakukan penelitian dengan judul “tidur dirumah sakit pada malam hari: kebutuhan pasien dapatkan terpenuhi?”. Peneliti mewawancarai klien dan perawat, dan keduanya menyepakati bahwa klien yang dirawat dirumah sakit tidak terpenuhi kebutuhan tidurnya. Tingkat kebisingan pada unit perawatan dan interupsi tidur karena pengobatan (treatment) dilihat sebagai hal yang mengganggu pola tidur normal. Penelitian ini menganjurkan pentingnya perawat menanyakan kepada klien tentang perespsi klien terhadap faktor-faktor yang dapat mengganggu tidur, memulai tindakan keperawatan yang tepat untuk meningkatkan tidur klien, dan lebih menyadari lagi terhadap kebisingan yang mereka buat selama melakukan tugas-tugas keperawatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: